Jurnalis yang kini menggeluti pertelevisian. Ia bergabung di Metro TV sebagai cameraman sejak 2004. Paradigmanya soal jurnalis terus berkembang dengan sikapnya yang berpihak kepada rakyat yang terpinggirkan. Kesibukannya menjalankan tugas sehari-hari tak membuat dia mengurung niatnya mengembangkan kemampuannya membuat film dokumenter. Ekmal bersama Kennorton Hutasoit, jurnalis Media Indonesia berkolaborasi membuat film dokumenter BHL (Buruh Harian Lepas) kisah penindasaran buruh di abad modern, berkat dukungan dana dari Kelompok Pelita Sejahtera (KPS) Medan.
Ekmal Muhammad memulai kepeduliannya terhadap pers sejak duduk di bangku kuliah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Ketika itu ia telah bergabung dengan Press Mahasiswa Suara USU. Garapannya mengenai kehidupan anak jalanan dan kehidupan kampus telah banyak dimuat di Pers Kampus tersebut.
Ia merasa tak cukup menggeluti pers Kampus. Ia membangun komunikasi dengan aktivis Henry Saragih, Presiden Federasi Serikat Petani Indonesia. Ekmal dipercaya mengelola media internal organisasi tersebut. Dalam perjalanannya ia akhirnya banyak mengetahui persoalan petani dan pertanian. Apalagi ia sering mendapat bahan dan file dari aktivis-aktivis yang bepergian ke luar negeri guna mendapatkan informasi pertanian dan petani negara-negara dunia ketiga.
Perjalanan hidupnya mengarahkannya menggeluti pers umum (meanstream). Begitu selesai menamatkan kuliahnya dengan menyandang gelar Sarjana Sosial ia bergabung dengan majalah Gatra. Perusahaan penerbitan Gatra tak merupakan tempat yang nyaman bagi Ekmal, akhirnya ia bergabung membuat berita portal Komat Kamit. Karena Komat Kamit tutup, Ekmal pindah ke siaran radio Prapanca FM.
Pengetahuan Ekmal di dunia pers kian berkembang dan semakin meluas ke pertelevisian. Ia pun mencoba bergabung ke perusahaan televisi dan akhirnya diterima di Trans TV pada 2002. Biasalah, ia juga ingin mencari kenyamanan kerja dan kantong gaji yang lebih lumayan, akhirnya ia memutuskan bergabung dengan Metro TV pada 2004 lalu. Ia berpendapat sekalipun pers di Indonesia menjamur, namun perhatian terhadap kesejahteraan pekerja pers masih minim.
***
sumber : kennortonhs.wordpress.com


What’s an interesting life of you. Congratulation:)
Best Regrads,
Hils